Menguji Madu Asli : Mitos Vs Ilmiah

Ditulis oleh prayudi di/pada 12 Januari, 2009

Saya termasuk pengkonsumsi madu, demikian juga dengan istri dan anak-anak. Namun terus terang saja setiap kali membeli madu tetap saja selalu mempertanyakan keaslian madu tersebut. Bagaimana sih sebenarnya yang disebut dengan madu asli itu ?

Ada banyak mitos seputar bagaimana menguji madu yang asli. Diantaranya adalah sbb :

Tuangkan air putih (air jernih) dalam sebuah wadah. Piring atau mangkok. Sebaiknya yang tidak bergambar supaya hasilnya tampak jelas. Masukkan satu sendok makan madu ke dalam air tersebut. Goyang-goyangkan perlahan-lahan piring tempat di mana air dan madu ditampung, sehingga madu yang ada di dalamnya menyebar. Jika madu tersebut asli, akan terlihat benang-benang berwarna kuning yang bentuknya menyerupai sebuah sarang lebah (heksagonal). Kalo madunya palsu, misal terbuat dari gula, tentu tidak akan membentuk sarang lebah.

Simpanlah madu didalam kulkas, madu yang asli tidak akan beku walau disimpan dalam freezer kulkas berbulan-bulan.

Madu asli akan menyebabkab menyala ketika dibakar dengan korek api, telur bisa matang, tidak rembes ketika ditetesi di kertas koran.

Madu asli tidak akan dirubung oleh semut.

Apabila diteteskan diatas permukaan zat padat (contoh kaca) madu tidak akan pernah kering walaupun dijemur berhari-hari. Begitu juga bila kita mengoleskan madu di telapak tangan, maka madu tidak akan pernah kering dan hilang kecuali bila dicuci.

Benarkah mitos-mitos diatas…? Secara ilmiah, cara untuk mengetahui kemurnian madu adalah dengan menggunakan alat yang disebut dengan hidrometer atau aerometer. Menurut standar perdagangan internasional (tentunya juga nasional), madu murni paling banyak hanya boleh mengandung air kurang lebih 17,4 % hingga 18 %. Kalau kandungan airnya melebihi 18 % maka madu akan mengalami fermentasi kemudian rusak. Cara pengukurannya adalah : hidrometer dicelupkan kedalam madu pada suhu 20 C sampai batas angka 1,4212 (sesuai dengan berat jenis madu pada kadar air 17,4%). Setelah itu kemudian dilepas dan diamati. Bila alat tersebut muncul lagi keatas, berarti madu tersebut memiliki berat jenis lebih tinggi dan kadar airnya telah sesuai dengan persyaratan. Atau dengan kata lain madunya adalah asli. Sebaliknya bila alatnya tenggelam lebih dalam, berarti kadar airnya lebih tinggi dari 17,4 % atau 18 %. Maknanya kadar airnya lebih banyak dan tidak sesuai alias madunya tidak asli.

Berdasarkan cara diatas maka semakin sedikit kadar air yang terdapat dalam madu akan menyebabkan molekul madu tetap terjaga utuh dan tidak pecah. Pada dasarnya, sifat semut suka pada yang manis-manis, termasuk rasa manis yang ada pada madu. Namun, semakin kental madunya (kadar airnya sedikit) semakin sulit bagi semut untuk mendeteksi lokasi rasa manis madu tersebut karena molekul yang ada di dalam madu tetap utuh, tidak pecah. Sebaliknya, bila kadar airnya tinggi (di atas 20%), maka semut mudah menghampiri.

Selain itu pada madu asli, selain rasa manis akan ditemukan pula rasa asam mengingat madu asli memiliki tingkat keasaman (pH) sekitar 3,4 – 6,1.

Alat polarimeter dapat pula digunakan untuk mengetahui keaslian madu. Madu asli secara optis akan memutar ke kiri, sedangkan madu palsu akan memutar ke kanan.

Pada akhirnya pengalaman juga yang menjadi sarana untuk menguji keaslian madu. Yang jelas semua madu yang DIJUAL adalah ASLI dan MURNI. Kitalah yang harus jeli untuk menentukannya mana yang benar-benar asli.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: